Menggali Keindahan dan Kenangan di Ranah Minang

Rabu, 26 Februari 2025 Last Updated 2025-02-26T01:26:36Z


Oleh : Adrinal Tanjung 

Perjalanan tiga hari di Ranah Minang meninggalkan kenangan mendalam yang tak akan mudah terlupakan. Mengunjungi dua kota yang memikat hati—Kota Padang dan Bukittinggi—memberikan kesempatan untuk merasakan langsung pesona alam, kuliner, dan tentu saja, bertemu dengan orang-orang yang memiliki cerita hidup masing-masing.

Di Kota Padang, saya mengawali hari dengan menjelajahi keindahan Pantai Padang. Angin laut yang segar dan deburan ombak yang menenangkan membuat saya merasa seolah berada di dunia yang berbeda. Tentu saja, tak lengkap rasanya jika tak mencicipi kuliner khas Padang. Hidangan rendang, sate Padang, dan gulai ikan menjadi sajian yang menggugah selera, memperkaya pengalaman rasa saya selama di sana.


Namun, yang paling istimewa adalah kesempatan untuk melaksanakan soft launching buku saya yang ke-50. Buku yang saya tulis bersama rekan SMA saya di Padang, Ardian Riza, yang juga memberikan beberapa ulasan menarik. Buku Musi Dua Delapan Sembilan ini semakin lengkap dan menarik berkat sentuhan ulasan darinya. Peluncuran yang sederhana namun penuh makna ini menjadi momen spesial bagi saya, sebagai seorang penulis yang terus berusaha menghadirkan karya untuk pembaca.

Tidak hanya itu, saya juga berkesempatan bertemu dengan teman-teman lama dari masa SMA, saling mengenang kenangan indah yang pernah kami lewati bersama. Di tengah kebersamaan ini, saya pun berdiskusi lebih lanjut dengan saudara saya di Padang. Kami berbicara tentang perjalanan hidup masing-masing dan berbagi rencana masa depan. Saudara saya banyak yang berkiprah di dunia bisnis optik, sementara salah seorang di antaranya mengabdi sebagai anggota Kepolisian Republik Indonesia. Percakapan itu penuh inspirasi dan memberi saya banyak pemahaman baru tentang perjuangan dan dedikasi.


Hari ketiga, perjalanan berlanjut ke Bukittinggi. Kota yang terletak di dataran tinggi ini selalu memiliki daya tarik tersendiri, terutama dengan suasana sejuknya yang menenangkan. Jam Gadang, ikon terkenal kota ini, menyambut saya dengan megah. Sambil menikmati pemandangan sekitar, saya berkesempatan bertemu dengan beberapa teman lama yang sudah lama menetap di Bukittinggi. Salah satu di antaranya adalah seorang Advokat ternama, yang kebetulan sedang berada di kota saat saya berkunjung. Percakapan kami, meski singkat—hanya sekitar tiga jam—tetap meninggalkan kesan mendalam. Setiap cerita yang kami bagi, setiap tawa dan obrolan ringan, mengingatkan saya akan pentingnya silaturrahmi yang penuh makna.

Di sela-sela pertemuan, saya juga menyempatkan diri untuk menikmati kuliner khas Bukittinggi, salah satunya Nasi Kapau yang begitu menggoda. Setiap suapan terasa seperti menikmati sejarah dan budaya kuliner yang kaya, di mana berbagai pilihan lauk pauk siap memanjakan lidah. Tak lupa, saya sempat meluangkan waktu untuk menikmati pemandangan Gunung Marapi dan Singgalang, dua gunung yang kokoh berdiri di horizon, menghadirkan ketenangan dalam setiap tatapannya.


Meskipun setiap pertemuan hanya berlangsung dalam waktu singkat, namun semuanya meninggalkan kesan yang mendalam dan membahagiakan. Setiap kisah, tawa, dan pertemuan itu menjadi pengingat bahwa dalam setiap perjalanan hidup, penting untuk tetap menjaga hubungan, berbagi cerita, dan memberi ruang untuk saling mendukung.

Perjalanan saya ke Ranah Minang ini tidak hanya sekadar tentang tempat dan kuliner, tetapi lebih kepada kenangan yang terukir dalam setiap detiknya. Semoga suatu saat nanti, saya bisa kembali ke Ranah Minang untuk merasakan kembali segala keindahannya yang tiada duanya.

Utan Kayu, 27 Februari 2025

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menggali Keindahan dan Kenangan di Ranah Minang

Trending Now

Profil

iklan