Cahaya Ramadhan dalam Keheningan

Senin, 31 Maret 2025 Last Updated 2025-03-30T22:16:50Z


Oleh : Adrinal Tanjung

Baru saja adzan Isya berkumandang, namun yang hadir di masjid hanya tiga jamaah. Tak seperti biasanya di malam malam Ramadhan, ketika suara adzan berkumandang  mengundang banyak langkah menuju rumah Allah. Suasana malam ini terasa hening, ada kesunyian yang lebih mendalam. Ramadhan telah pergi, meninggalkan jejak yang terasa begitu nyata di hati. Tiga puluh hari yang penuh berkah dan pelajaran itu begitu cepat berlalu. Rasanya, waktu selama Ramadhan meluncur dengan kecepatan yang tak terduga.

Di Ramadhan tahun ini, saya beberapa kali berpindah tempat untuk menunaikan ibadah Tarawih. Dua kali perjalanan dinas ke Kota Bandung di minggu pertama dan Kota Semarang di minggu ketiga memberi warna yang berbeda di tengah suasana Ramadhan. Meski berpindah tempat, saya merasa ada kesendirian yang hadir dalam setiap langkah, sebuah perasaan hening yang membawa saya merenung dan berintrospeksi. Kini, menjelang malam terakhir Ramadhan, ada keheningan yang terasa lebih mendalam. Sebelum hari raya, sebelum keramaian Idul Fitri besok, ada momen yang seolah menjadi milik diri sendiri. Kesepian ini bukanlah kesepian yang penuh kehampaan, namun sebuah kesendirian yang penuh makna.

Saat-saat seperti ini, meskipun dunia di luar sibuk dengan persiapan perayaan, saya justru merasa bahwa ini adalah waktu untuk merenung. Keheningan ini mengajarkan saya tentang betapa berharganya momen yang kita miliki dalam setiap langkah, dan betapa pentingnya memberi ruang untuk menghitung diri.

Tahun 2025 terasa begitu hening. Sering kali, saya merasa terdiam, sepi, dan menyepi. Di tengah keriuhan yang tiada henti, saya memilih untuk diam. Keheningan ini, yang tampaknya hadir begitu sering, memberi saya kesempatan untuk merangkai kata-kata. Dalam heningnya malam ini, saya menghitung diri, keberhasilan, kegagalan, dan pencapaian. Ada sedih dan gembira. Keheningan dan kebijaksanaan. Ada rasa syukur yang berlimpah, namun juga ada kesadaran bahwa sabar adalah sesuatu yang perlu terus dipupuk. Jika tak sabar, masalah kecil bisa berkembang menjadi masalah besar, dan hidup yang begitu dinamis ini sering mengajarkan untuk tetap tenang dalam menghadapi tantangan.


Hidup dengan tantangan dan dinamika yang datang silih berganti. Namun di balik setiap tantangan, ada pelajaran yang berharga. Dan Ramadhan tahun ini mengajarkan saya untuk lebih sabar, lebih bersyukur, dan lebih bijaksana.

Dua puluh empat jam ke depan, saya akan meninggalkan tanah air untuk melaksanakan umrah bersama keluarga, membawa harapan dan doa untuk masa depan yang lebih baik. Ada kegembiraan di hati, namun tak bisa dipungkiri ada juga kerisauan yang datang. 

Persiapan yang terbatas jelang ke tanah suci. Kesibukan yang tiada henti. Dalam keheningan saya menyadari bahwa semua perasaan itu adalah bagian dari proses. Proses untuk menjadi lebih baik, lebih dekat dengan Tuhan, dan lebih bijaksana dalam menghadapi hidup.

Perjalanan umrah yang akan saya lakukan bersama keluarga ini, bukan hanya sebuah kesempatan untuk beribadah, tetapi juga sebuah momen untuk memperdalam keyakinan kepada Allah SWT. Di tanah suci, setiap langkah akan saya jadikan kesempatan untuk merenung dan memperbaharui niat, serta menyelaraskan setiap tindakan dengan kehendak-Nya. Sebagai seorang hamba, saya berharap perjalanan spiritual ini mampu mempertebal iman, memperkukuh tekad untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik, dan semakin bermanfaat bagi keluarga, institusi, serta masyarakat luas. 

Umrah ini menjadi sarana untuk menata hati dan menguatkan komitmen agar setiap peran yang saya jalani bisa memberikan dampak positif. Dengan harapan, doa, dan tawakal yang tulus, semoga Allah memberikan petunjuk untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih bermanfaat, penuh kasih sayang, dan selalu memberikan yang terbaik untuk sesama, di setiap aspek kehidupan.

Kepergian untuk menjalankan ibadah umrah mengingatkan saya bahwa setiap langkah, setiap keputusan yang kita ambil, harus dipenuhi dengan rasa syukur, sabar, dan niat yang tulus. Semoga Ramadhan yang telah berlalu membawa berkah, dan keheningan malam ini menguatkan tekad untuk terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih dekat dengan-Nya.

Ramadhan telah pergi, tetapi semangat dan pelajaran yang dibawanya akan terus hidup dalam setiap langkah saya. Semoga keheningan ini memberi kedamaian, dan setiap doa yang terpanjat dalam malam ini menjadi penyemangat untuk perjalanan spiritual yang akan datang.

Bekasi, 30 Maret 2025

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Cahaya Ramadhan dalam Keheningan

Trending Now

Profil

iklan