Oleh : Adrinal Tanjung
Pagi ini cuaca begitu teduh dan nyaman di kediaman saya. Cuaca yang tak terlalu panas. Usai membaca buku Cahaya, Seni, dan Kehidupan, saya mulai menulis catatan sederhana terkait kebersamaan dalam acara Buka Puasa Bersama Alumni SMA 2 Padang Angkatan 89. Dalam keheningan pagi yang tenang ini, saya mulai menulis catatan sederhana. Acara buka puasa bersama tadi malam ini membawa kebahagiaan, serta rasa syukur yang tak terhingga.
Buka puasa ke-8 bulan suci Ramadhan 1446 H menjadi sebuah momen penuh kenangan. Kami alumni SMA 2 Padang Angkatan 89 menggelar acara Buka puasa bersama yang digelar di Bopet Uda Melawai, Jakarta Selatan. Menyatukan kami dalam kegembiraan meskipun cuaca tak bersahabat. Hujan lebat dan sesekali petir beberapa jam sebelum acara buka puasa tak menghalangi kebersamaan kami. Dari 50 orang yang mendaftar, 38 orang hadir, sebuah angka yang cukup menggembirakan di tengah cuaca yang kurang bersahabat. Tentu, pertemuan seperti ini terasa sangat berharga.
Kami yang hadir datang dari berbagai penjuru kota, di antaranya Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bogor, Cikarang, Lampung, Bandung, Padang, dan Muaro Bungo. Beberapa rekan datang dari kota yang berjarak cukup jauh. Didorong oleh semangat kebersamaan, tak menjadi halangan untuk berkumpul kembali dan berbagi tawa dan cerita.
Di balik kebahagiaan yang hadir, ada keheningan yang menyapa. Sebulan terakhir, kami harus merelakan dua sahabat kami berpulang. Kepergian mereka menjadi pengingat bahwa hidup ini tak selalu penuh dengan tawa dan kebahagiaan. Kesedihan datang untuk mengingatkan kita akan ketidakabadian dan pentingnya menghargai setiap momen yang ada.
Momen-momen indah yang tercipta saat kami bersama sahabat-sahabat ini akan selalu kami kenang, dan meskipun mereka kini tiada, kenangan itu tetap hidup di hati kami.
Gede Prama menulis di buku Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan: Hidup ini adalah perpaduan antara kesedihan dan kebahagiaan. Keduanya datang dan pergi, saling melengkapi. Kehilangan memberikan ruang untuk refleksi, sedangkan kebahagiaan mengajarkan kita untuk bersyukur. Dan di antara kedua perasaan ini, ada keheningan yang memberi kita kedamaian. Keheningan itulah yang memungkinkan kita untuk berdamai dengan kenyataan dan menemukan kekuatan untuk terus melangkah.
Bicara tentang kebahagiaan, tak lengkap rasanya tanpa menyebutkan momen kebersamaan yang kami nikmati. Meski saya pulang lebih awal dan tidak sempat ikut foto bersama, saya tetap merasa beruntung bisa berbagi momen indah itu. Apalagi saat acara berlangsung, ada foto bersama dengan rekan-rekan sekelas I.5 SMA 2 Padang Angkatan 89. Sebanyak tujuh orang dari kelas I.5 hadir, sebuah jumlah yang cukup banyak dibandingkan dengan kelas lainnya. Kehadiran rekan rekan satu kelas menambah kesan dan semangat bahwa persahabatan ini tetap kuat, meski telah lebih dari tiga dekade berlalu.
Setelah acara selesai, kami berfoto bersama, sebagai simbol bahwa meskipun waktu terus berlalu, kenangan yang tercipta tetap abadi. Saya merasa beruntung dapat menjalin kenangan dengan teman-teman satu kelas, yang jarang terulang. Di balik setiap momen foto bersama, ada cerita, tawa, dan kebahagiaan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang hadir.
Di tengah acara Buka Puasa Bersama tersebut, saya juga sempat menyampaikan dummy buku Musi Dua Delapan Sembilan kepada Ketua Umum SMA 2 Padang Angkatan 89, Satya Hidayat. Buku yang segera diterbitkan ini merupakan karya kolaboratif alumni SMA 2 Padang Angkatan 89. Buku karya inisiatif saya dengan Ardian Riza sesama alumni SMA 2 Padang Angkatan 89 ini bertujuan untuk mengenang kebersamaan kami sebagai angkatan yang penuh makna. Dua minggu lalu, dummy buku ini sudah saya bawa ke Padang dan telah didiskusikan dengan beberapa rekan SMA 2 Padang Korwil Sumatera Barat, serta mendapat sambutan hangat.
Pagi ini, saya sempat menanyakan kepada beberapa alumni SMA 2 Padang Angkatan 89 yang hadir dalam acara buka puasa tadi malam. Mereka merasa sangat puas dan senang dengan acara tersebut. Sambutan teman-teman yang hadir begitu positif, mulai dari tempat acara yang begitu nyaman, termasuk ruang sholat yang tersedia, hingga makanan yang bervariasi dan memanjakan lidah. Persahabatan dan kebersamaan yang terus terjaga memberi kebanggaan dan kebahagiaan.
Acara buka puasa bersama tadi malam adalah simbol kebersamaan yang tak lekang oleh waktu, mengingatkan bahwa setiap momen adalah berharga. Dalam kebahagiaan, kita bersyukur; dalam kesedihan, kita belajar menerima; dan dalam keheningan, kita menemukan kedamaian. Sampai jumpa lagi di acara berikutnya.
Bekasi, 9 Maret 2025