"Refleksi Ramadhan di Tengah Kehilangan"

Kamis, 20 Maret 2025 Last Updated 2025-03-20T04:11:30Z


Oleh Adrinal Tanjung

Hari ini, di Hari ke-20 Ramadhan, saya merasa begitu terhening. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tinggal menyisakan 10 hari yang sangat berarti dalam bulan yang penuh berkah ini. 10 hari terakhir Ramadhan selalu menjadi waktu yang penuh refleksi, waktu yang sangat penting untuk merenung, menepi, dan mengingat kembali tujuan hidup kita yang sering kali terlupakan dalam kesibukan sehari-hari.

Di dua puluh hari ini, saya mendapatkan kabar duka yang menggetarkan hati. Dua sahabat yang pernah bersama saya di SMA 2 Padang, kini telah berpulang ke Rahmatullah. Kepergian mereka begitu mendalam, terutama karena mereka meninggalkan kami begitu mendadak. Sahabat pertama, teman  seangkatan dengan saya di SMA hingga kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Padang, pergi tak pernah diduga. 

Banyak kenangan yang tercipta seperti bergulung-gulung dalam benak saya. Sahabat kedua, yang juga pernah duduk dalam satu kelas yang sama di kelas I dan kelas III  SMA 2 Padang, kini juga telah meninggalkan dunia ini, mengingatkan saya betapa fana-nya hidup ini.


Saat merenung tentang kepergian mereka, saya kembali pada hal yang mengingatkan "Hidup sekali, berarti, lalu mati." Kehidupan ini benar-benar tidak bisa kita tebak. Setiap momen yang kita lewati adalah hadiah yang harus kita syukuri. Kehilangan sahabat-sahabat ini membuat saya semakin menghargai setiap detik yang kita miliki, serta pentingnya mempergunakan waktu yang ada dengan penuh makna.

Di tengah-tengah perasaan yang penuh dengan kesedihan dan kesibukan lainnya, saya mulai merasa kesulitan menahan emosi. Terlebih saat tekanan mulai meningkat dengan banyaknya tugas yang harus diselesaikan, serta persiapan keberangkatan saya untuk melaksanakan umrah bersama keluarga yang akan berlangsung setelah lebaran. Ini adalah waktu yang seharusnya saya manfaatkan untuk menenangkan hati, lebih khusyuk menjalani sisa Ramadhan, dan menerima segala hal dengan keikhlasan. Namun, realitasnya, suasana hati saya masih penuh gejolak.

Inilah yang mendorong saya untuk menulis apa pun yang ada di kepala. Agar perasaan yang campur aduk ini bisa terekspresikan, agar hati ini bisa sedikit lebih ringan. Menulis menjadi cara saya untuk menenangkan diri, memberi ruang untuk refleksi, dan melepaskan beban dalam pikiran. Hari ini, keinginan untuk menulis semakin meningkat. Saya merasa terdorong untuk menulis, untuk berbagi perasaan, untuk berbagi pelajaran hidup yang saya temui dalam perjalanan ini.

Di 10 hari terakhir Ramadhan yang sangat berarti ini, banyak hal yang harus saya antisipasi. Mulai dari tugas kantor yang belum selesai, hingga persiapan yang harus saya lakukan untuk perjalanan umrah yang penuh makna. Semua hal itu bisa menambah kekhawatiran dan kegelisahan dalam hati, namun saya ingin tetap menjaga ketenangan. Menyadari bahwa dalam setiap kesibukan, penting untuk menjaga diri, untuk tetap nyaman dengan apa yang kita hadapi.


Menulis untuk saya, adalah sebuah cara untuk memberi kebahagiaan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Dengan menulis, saya bisa merenung dan melangkah dengan lebih tenang. Ini adalah momen untuk mengingat kembali apa yang penting, untuk menghargai setiap detik yang kita miliki, dan untuk memperbaiki diri. Sebagai umat yang sedang menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan, saya ingin mengisi hari-hari yang tersisa dengan lebih banyak doa, amal, dan rasa syukur atas segala nikmat yang Allah berikan.

Saya berdoa untuk sahabat-sahabat yang telah berpulang, semoga Allah mengampuni segala dosa mereka, memberikan tempat terbaik di sisi-Nya, dan memberikan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan. Saya juga berdoa agar perjalanan umrah yang akan saya jalani bersama keluarga diberkahi, penuh ketenangan, dan menjadi momen yang memperkuat iman dan spiritualitas.

Kehidupan ini terlalu singkat untuk disia-siakan dengan kekhawatiran yang tak perlu. Setiap detik yang kita miliki adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, memperkuat ikatan dengan sesama, dan menjadi pribadi yang lebih baik. Kepergian sahabat-sahabat kita menjadi pengingat bahwa hidup ini sementara, namun amal dan kebaikan yang kita tinggalkan akan terus dikenang. 

Semoga sisa waktu di bulan yang penuh berkah ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, penuh rasa syukur, keikhlasan, dan kebahagiaan yang hakiki sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. Aamiin.

Pramuka 33, 20 Maret 2025

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • "Refleksi Ramadhan di Tengah Kehilangan"

Trending Now

Profil

iklan